APARTEMEN DIJOGJA PENUH, BAGAIMANA DENGAN HUNIAN TAPAK?

Bumi Sedayu > Artikel > APARTEMEN DIJOGJA PENUH, BAGAIMANA DENGAN HUNIAN TAPAK?

Keberadaan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai universitas tertua dan salah satu universitas favorit di Jogjakarta tak pelak mampu menjadi magnet bagi calon mahasiswa yang datang dari luar kota dan latar belakang ekonomi yang berbeda. Belum lagi fakta bahwa di Jogja banyak sekali pilihan universitas selain UGM.

Bagi mahasiswa perantau, kebutuhan akan tempat tinggal menjadi kebutuhan primer. Tak pelak, kos menjadi incaran utama.

Baca juga : perbandingan rumah tapak dan apartemen 

Namun seiring berjalannya waktu, para pengembang melihat celah bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan besar. Mereka (pengembang) mulai membangun apartemen sewa di Jogjakarta.

Celah ini mengacu pada mahasiswa yang belakangan ini memiliki standarisasi yang tinggi. Apalagi fasilitas yang di berikan apartemen bagi mereka (mahasiswa) dinilai punya nilai lebih.

Bisa dibilang bisnis sewa apartemen berjalan lancer. Ini ditandai oleh salah satu pengembang di Jogja yang mulai membangun apartemen lagi setelah sebelumnya memiliki apatemen di kawasan Sardjito.

“kami yakin bisnis apatemen akan mendulang kesuksesan di Jogjakarta, karena kota ini selalu menjadi pilihan bagi para mahasiswa baru,” tutup Wahyuni Sutantri, Direktur salah satu pengembang di Jogja.

Saatnya mengalihkan perhatian ke hunian tapak?

Berkaca pada fakta diatas, tidak ada salahnya para mahasiswa baru mengalihkan perhatiannya pada rumah tapak. Apalagi perkembangan rumah tapak di Jogjakarta meningkat positif. Tengok saja sisi barat Kota Jogja, lebih tepatnya Jalan Wates. Disana berjubel perumahan tentunya dengan fasilitas-fasilitas menarik yang mereka tawarkan.

Fakta bahwa harga tanah yang setiap tahunnya mengalami kenaikan menjadi kunci utama. Mengapa?

Rumah tapak bisa menjadi investasi bagi para mahasiswa. Ketika nantinya mereka sudah lulus dan ingin kembali kekampung halaman, rumah yang mereka beli bisa dijual kembali. Tentu nilainya akan melambung tinggi sesuai fakta diatas. Dengan begitu uang “kos” selama mereka di tinggal di Jogja akan kembali lagi.

Tentu pilihan ada ditangan orangtua mahasiswa. Apakah mereka ingin investasi tempat tinggal anaknya hilang begitu saja atau mendapatkan keuntungan dengan menjual investasi rumah tapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *